“Hai
orang-orang yang beriman, makanlah diantara rizki yang baik-baik yang Kami
berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika benar-benar hanya
kepada-Nya kamu menyembah”. (QS 2:172).
Ayat di
atas merupakan salah satu ayat yang berisi seruan yang amat penting dari Allah
Swt kepada kita, orang-orang yang beriman. Terdapat dua seruan Allah yang harus
mendapat perhatian kita pada ayat di atas.
1. Makan
Yang Baik
Makan
merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Tapi sebagai mu’min, kita tidak
dibenarkan memakan sesuatu tanpa mempertimbangkan aspek hukumnya. Itu sebabnya,
Allah Swt menekankan kepada kita untuk makan yang halal dan tayyib (baik).
Disamping ayat di atas, sekurang-kurangny, Allah Swt menyebutkan lagi dalam empat
ayat yang berbeda surat akan keharusan kita untuk memakan yang baik itu, yakni
pada surat 2:168, 5:88, 8:69 dan 16:114.
Rizki
yang tayyib menurut Ash Shabuni dalam tafsir ahkamnya adalah rizki yang halal,
maka setiap yang dihalalkan Allah adalah rizki yang baik dan setiap yang
diharamkan Allah adalah riski yang buruk. Ash Shabuni juga mengutip pendapat
Umar bin Abdul Aziz: “Yang dimaksud ayat ini yaitu usaha yang halal, bukan
makanan yang halal”.
Meskipun
demikian, kita juga dapat memahami bahwa makan yang halal dan tayyib itu
memiliki dua maksud. Pertama, memakan makanan yang secara hukum memang telah
dihalalkan seperti memakan daging sapi, kambing, kerbau, ayam dan sebagainya.
Kedua, memakan makanan yang diperoleh dengan cara yang halal, ini artinya
meskipun pada dasarnya jenis yang dimakan itu dihalalkan, dia bisa menjadi
haram manakala memperolehnya dengan cara yang tidak halal.
Dalam
pandangan Islam, memakan makanan yang halal merupakan sesuatu yang sangat
penting, tanpa itu, do’a dan ibadah lainnya tidak diterima oleh Allah Swt, hal
ini dipertegas oleh Rasulullah Saw dalam hadits yang artinya: Sesungguhnya
Allah itu zat yang Maha Bagus, Ia tidak menerima melainkan apa yang bagus, dan
bahwasanya Allah menyuruh orang-orang mu’min sebagaimana Ia menyuruh Rasul-Nya.
Lalu ia membaca (firman Allah) yang artinya: “Hai rasul-rasul, makanlah rizki
yang baik-baik dan bermallah yang shaleh” (QS 23:51). Dan ia membaca (firman
Allah) yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari rizki yang
baik-baik” (QS 2:172), kemudian ia menyebut seorang laki-laki yang lama dalam
perjalanan, rambutnya kusut, berdebu, menengadah ke langit, ya rabbi ya rabbi,
sedang makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makanan
yang haram, maka bagaimana mungkin (do’anya itu) akan dikabulkan?” (HR. Ahmad,
Muslim dan Tirmidzi) .
Banyak
sekali cara yang dilakukan manusia dalam mendapatkan rizki yang haram. Ada yang
merampok, menjarah, menipu, korupsi, kolusi, mencuri, pungli dan sebagainya
yang kesemua itu kadang-kadang dilakukan manusia sebisa mungkin meskipun harus
menyakiti, memfitnah, melukai bahkan membunuh orang lain.
Karena
itu, apabila ada orang menjarah barang orang lain dan kita mengutuk si penjarah
dan si perusuh, menangkap, menyiksa dan menghukumnya, maka semestinya kita juga
mengutuk pelaku korupsi, pungli, manipulasi, kolusi dan sebagainya, lalu
menangkap, menyiksa dan menghukumnya. Tapi sayang seribu kali sayang. Pelaku
korupsi, kolusi, pungli dan sebagainya dibiarkan saja terus melakukan aksinya
dengan pasilitas kekuasaan yang diembannya, bahkan mereka mengatakan bahwa
menjarah itu bukan budaya bangsa kita, sementara mereka dengan seenaknya
melakukan korupsi, kolusi dan sejenisnya dan membiarkan para pelakunya
melakukan aksi demikian selama berpuluh-puluh tahun yang telah merugikan
masyarakat dan bangsa, apa itu budaya bangsa kita?.
Dengan
demikian, mencari rizki di dalam Islam tidak dibolehkan dengan mnghalalkan
segala cara. Kehancuran martabat pribadi seseorang dan kejayaan suatu bangsa seringkali
terjadi karena menghalalkan segala cara dalam mendapatkan rizki, baik hal itu
dilakukan oleh masyarakat, apalagi oleh para pemimpinnya. Negara kita termasuk
dalam kondisi yang mendekati kehancuran, karena menghalalkan segala cara dalam
memperoleh rizki telah menjadi ciri dari begitu banyak masyarakat dan para
pemimpinnya, bahkan pengadilanpun bisa dibeli untuk “membenarkan” perbuatannya
yang tidak benar. Karena itu amat penting bagi kita untuk kembali kepada firman
Allah yang artinya: Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian
yang lain diantara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa
(urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada
harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui
(QS 2:188).
2.
Bersyukur
Surat Al
Baqarah:172 tidak hanya mengharuskan kita memakan yang halal dan mendapatkannya
dengan cara yang halal, tapi setelah itu kita harus bersyukur kepada Allah Swt
sebagai tanda kita mengabdi kepada-Nya. Ini berarti, sebagai mu’min kita tidak
cukup hanya mencari rizki secara halal, tapi setelah mendapatkannya secara
halal, kita dituntut untuk bersyukur kepada Allah Swt.
Meskipun
kita sudah mencari rizki secara halal tapi kalau ternyata kita tidak bersyukur
setelah memperolehnya, maka tetap saja kita dianggap sebagai orang yang belum
sebenar-benarnya mengabdi kepada Allah Swt. Namun bersyukur itu bukanlah
sekedar mengucapkan terima kasih atau alhamdulillah kepada Allah Swt. Tapi
setelah hamdalah dan terima kasih itu, seorang mu’min harus memanfaatkan
kenikmatan yang Allah berikan untuk mengabdi kepada-Nya. Dengan bersyukur,
kenikmatan yang Allah berikan itu akan terus bertambah, baik dari segi jumlah
atau banyaknya maupun rasa dalam arti betapa terasa banyak kenikmatan itu
meskipun sebenarnya sedikit, dan bila seseorang tidak bersyukur, maka azab
Allah telah menantinya, Allah berfirman yang artinya: Dan (ingatlah juga),
tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan
menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka
sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS 14:7).
Karena
bersyukur kepada Allah Swt dalam kapasitas sebagai mu’min merupakan sesuatu
yang sangat penting, maka syaitan terus berupaya semaksimal mungkin agar
manusia tidak bersyukur kepada Allah Swt, tekad syaitan untuk membentuk manusia
yang tidak bersyukur dikisahkan oleh Allah dalam Al-Qur’an yang artinya: Kemudian
saya (syaitan) akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari
kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka
bersyukur (QS 7:17).
Mengingat
betapa beratnya upaya menjadi orang yang pandai bersyukur kepada Allah Swt
--karena syaitan selalu menggoda-- maka disamping Rasulullah Saw mengajarkan
kita agar menjadi orang yang pandai bersyukur, Nabi Sulaiman AS dengan segala
kenikmatan yang diberikan kepadanya juga berdo’a kepada Allah agar ia bisa
bersyukur yang tentu saja untuk bersyukur itu memerlukan ilmu pengetahuan,
Allah berfirman menceritakan masalah ini yang artinya: Maka dia (Sulaiman)
tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia
berdo’a: “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang
telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk
mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan
rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh” (QS 27:19).
Mana
orang yang bersyukur dan mana yang tidak, Allah Swt mengetahuinya, baik
seseorang itu memiliki kekayaan atau dalam keadaan miskin, Allah berfirman yang
artinya: Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang yang
kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang yang miskin), supaya (orang-orang
yang kaya itu) berkata: “orang-orang semacam inikah diantara kita yang diberi
anugerah oleh Allah kepada mereka?”. (Allah berfirman): “Tidakkah Allah lebih
mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)”? (QS 6:53).
Dengan
demikian, manakala kita benar-benar hendak membuktikan diri sebagai hamba Allah
yang selalu mengabdi kepada-Nya, maka diantara persyaratan utama yang harus
kita penuhi pada ayat yang kita bahas ini adalah memakan makanan yang tayyib,
yang baik atau yang halal dan selalu bersyukur kepada Allah Swt dengan segala aplikasinya.
Sign up here with your email

5 comments
Write commentsThanks :)
Replybermanfaat banget
ReplyMakasih kakak ilmunya. :)
ReplyTerimakasih pencerahannya
ReplyAlhamdulillah,,, Jazakallah khoir...
ReplyConversionConversion EmoticonEmoticon